Mengupas Tuntas Asesmen dalam Kurikulum Merdeka: Dari Prinsip Hingga Praktik di Kelas

Asesmen sering kali menjadi salah satu aspek yang paling kompleks dalam praktik pendidikan. Sebagai pendidik, kita dituntut untuk tidak hanya mengukur, tetapi juga memahami, membimbing, dan memotivasi setiap murid. Kurikulum Merdeka membawa angin segar dengan menempatkan asesmen sebagai jantung dari siklus pembelajaran yang berpihak pada murid. Namun, bagaimana filosofi ini diterjemahkan ke dalam praktik kelas sehari-hari? Panduan ini akan membedah tuntas filosofi, prinsip, dan praktik asesmen yang relevan dan bermakna, sesuai dengan Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi terbaru, untuk membantu Anda menjadikan asesmen sebagai alat refleksi dan pertumbuhan yang kuat.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Paradigma Baru: Memahami Asesmen sebagai Siklus Pembelajaran

Perubahan paling fundamental dalam Kurikulum Merdeka adalah pergeseran cara memandang asesmen. Ia bukan lagi sekadar aktivitas administratif yang terpisah di akhir pembelajaran, melainkan sebuah siklus yang terintegrasi dan berkelanjutan. Paradigma baru ini menempatkan asesmen sebagai proses untuk mengumpulkan informasi yang kemudian digunakan untuk merancang dan meningkatkan efektivitas pembelajaran secara terus-menerus. Hubungan siklus antara perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen menjadi fondasi utamanya.

  • Perencanaan: Siklus dimulai bahkan sebelum pembelajaran dimulai. Asesmen di awal pembelajaran memberikan informasi krusial tentang kesiapan, kebutuhan, dan tingkat kompetensi murid. Data ini menjadi dasar bagi pendidik untuk merancang tujuan dan alur pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan tahap capaian setiap murid, bukan lagi pendekatan "satu untuk semua".
  • Pelaksanaan: Selama proses belajar mengajar, asesmen formatif digunakan secara berkelanjutan untuk memantau kemajuan murid dan memberikan umpan balik yang cepat. Ini memungkinkan pendidik untuk segera mengetahui jika ada murid yang mengalami kesulitan atau justru membutuhkan tantangan lebih. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih responsif dan adaptif.
  • Refleksi: Hasil dari berbagai asesmen—baik di awal, tengah, maupun akhir—menjadi bahan bakar utama untuk refleksi. Bagi murid, ini adalah kesempatan untuk memonitor kemajuan belajarnya sendiri. Bagi pendidik, ini adalah cermin untuk mengevaluasi efektivitas strategi mengajar dan merencanakan perbaikan untuk siklus pembelajaran berikutnya.

Dalam paradigma ini, fokus utama bergeser ke asesmen formatif yang berorientasi pada perkembangan kompetensi murid. Asesmen tidak lagi hanya menghakimi, tetapi mendidik dan memberdayakan. Untuk memastikan siklus ini berjalan dengan efektif, ada beberapa prinsip fundamental yang harus menjadi pegangan setiap pendidik.

2. Tiga Pilar Utama: Prinsip Asesmen yang Berkeadilan, Objektif, dan Edukatif

Untuk memastikan proses penilaian yang utuh, adil, dan bermakna, setiap asesmen harus didasarkan pada tiga prinsip utama. Prinsip-prinsip ini adalah pilar yang menopang seluruh kerangka asesmen dalam Kurikulum Merdeka, memastikan bahwa setiap murid dinilai secara proporsional dan hasilnya dapat digunakan untuk kemajuan belajar yang sesungguhnya.

2.1 Prinsip Berkeadilan

Asesmen yang berkeadilan berarti penilaian yang dilakukan tidak bias oleh latar belakang, identitas, maupun kebutuhan khusus murid. Setiap murid memiliki hak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristiknya, dan asesmen harus mencerminkan prinsip ini.

  • Penyampaian Kriteria Ketercapaian: Pendidik menentukan kriteria keberhasilan dan menyampaikannya kepada murid di awal, sehingga mereka memahami dengan jelas ekspektasi yang perlu dicapai.
  • Kolaborasi Antar Pendidik: Pendidik berkolaborasi dalam merancang asesmen untuk memastikan penggunaan kriteria yang serupa dan sesuai dengan tujuan, menciptakan konsistensi penilaian.
  • Akomodasi untuk Murid Berkebutuhan Khusus: Asesmen untuk murid berkebutuhan khusus memerlukan penyesuaian (akomodasi), baik dalam bentuk instrumen, format jawaban, maupun durasi waktu pengerjaan.

2.2 Prinsip Objektif

Asesmen yang objektif didasarkan pada informasi faktual atas pencapaian murid dan menggunakan kriteria yang jelas, bukan berdasarkan persepsi subjektif atau faktor pribadi pendidik. Fokusnya adalah pada kompetensi yang ingin dicapai dengan prosedur yang sahih dan reliabel.

  • Penggunaan Asesmen di Awal Pembelajaran: Pendidik menguatkan asesmen awal untuk mendapatkan data faktual mengenai kesiapan murid sebagai dasar merancang pembelajaran.
  • Keselarasan dengan Tujuan: Pendidik merencanakan asesmen yang selaras dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, memastikan apa yang dinilai relevan dengan apa yang diajarkan.
  • Penggunaan Berbagai Teknik Asesmen: Untuk mendapatkan gambaran yang utuh, pendidik menggunakan berbagai teknik asesmen, tidak hanya tes tertulis atau lisan, tetapi juga observasi dan penilaian performa (praktik, produk, projek, portofolio).

2.3 Prinsip Edukatif

Asesmen yang edukatif berarti hasilnya digunakan sebagai umpan balik yang membangun bagi pendidik, murid, dan orang tua untuk meningkatkan proses dan hasil belajar. Tujuannya bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memperkuat proses belajar dan memotivasi murid.

  • Pelibatan Murid dalam Asesmen: Pendidik melibatkan murid dalam proses asesmen melalui penilaian diri (self-assessment), penilaian antarteman (peer assessment), dan refleksi diri.
  • Hasil Asesmen sebagai Bahan Diskusi: Hasil asesmen digunakan sebagai bahan diskusi untuk menentukan hal-hal yang sudah berjalan baik dan area yang perlu diperbaiki, baik oleh murid maupun pendidik.
  • Pemberian Umpan Balik yang Membangun: Pendidik memberikan umpan balik berupa kalimat dukungan untuk menstimulasi pola pikir bertumbuh (growth mindset) dan mendiskusikan tindak lanjutnya bersama murid dan orang tua.

Dengan berpegang pada ketiga prinsip ini, kita dapat memastikan bahwa asesmen yang kita lakukan benar-benar melayani tujuan utamanya. Prinsip-prinsip ini kemudian diwujudkan melalui dua jenis asesmen utama yang memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi.

3. Membedah Jenis Asesmen: Kapan dan Mengapa Menggunakan Asesmen Formatif dan Sumatif

Untuk mengimplementasikan asesmen secara efektif, kita tidak hanya perlu memahami kapan menggunakan asesmen formatif dan sumatif, tetapi juga mengapa keduanya memiliki peran yang berbeda. Panduan Kurikulum Merdeka menggarisbawahi tiga fungsi pedagogis utama asesmen: assessment for learning (asesmen untuk perbaikan proses belajar), assessment as learning (asesmen sebagai proses belajar bagi murid), dan assessment of learning (asesmen atas hasil belajar). Pemahaman terhadap ketiga fungsi ini akan memperjelas tujuan di balik penggunaan asesmen formatif dan sumatif, mengubahnya dari sekadar alat ukur menjadi instrumen pedagogis yang kuat.

3.1 Asesmen Formatif: Kompas Selama Proses Belajar

Tujuan utama asesmen formatif adalah untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran secara real-time serta memberikan umpan balik yang cepat bagi pendidik dan murid. Asesmen ini berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan jalannya pembelajaran agar tetap berada di jalur yang tepat menuju tujuan. Asesmen ini secara langsung mewujudkan dua fungsi utama: sebagai assessment for learning, di mana hasilnya menjadi umpan balik bagi pendidik untuk memperbaiki strategi mengajar, dan sebagai assessment as learning, di mana murid dilibatkan dalam refleksi (misalnya melalui penilaian diri) untuk memonitor kemajuan belajarnya sendiri.

Asesmen formatif dapat dibedakan menjadi dua jenis utama:

  1. Asesmen di awal pembelajaran: Dilakukan untuk mengetahui kesiapan murid dalam mempelajari materi dan mencapai tujuan yang direncanakan. Hasilnya digunakan pendidik untuk merancang pembelajaran yang sesuai kebutuhan, bukan untuk rapor.
  2. Asesmen di dalam proses pembelajaran: Dilakukan selama proses belajar untuk memantau perkembangan murid. Jika murid sudah mencapai tujuan, pendidik bisa melanjutkan ke tujuan berikutnya. Jika belum, pendidik perlu memberikan tindak lanjut.

Hal-hal kunci yang perlu diperhatikan dalam merancang asesmen formatif:

  • Tidak Berisiko Tinggi (Low Stakes): Asesmen formatif tidak digunakan untuk menentukan nilai rapor, kenaikan kelas, atau kelulusan. Tujuannya murni untuk perbaikan proses belajar.
  • Menggunakan Berbagai Teknik: Dapat dilakukan melalui observasi, diskusi, penilaian diri, penilaian antarteman, atau metode sederhana lainnya yang memungkinkan umpan balik cepat.
  • Dilaksanakan Bersamaan dengan Pembelajaran: Asesmen formatif adalah bagian tak terpisahkan dari kegiatan belajar mengajar, bukan sebuah tes terpisah.

3.2 Asesmen Sumatif: Mengukur Ketercapaian di Akhir Pembelajaran

Tujuan utama asesmen sumatif adalah untuk menilai pencapaian hasil belajar murid di akhir suatu periode pembelajaran. Hasilnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan nilai rapor, kenaikan kelas, dan kelulusan. Dalam kerangka fungsi asesmen, asesmen sumatif berperan utama sebagai assessment of learning—sebuah evaluasi akhir terhadap apa yang telah dipelajari murid pada suatu periode.

Asesmen ini dapat dilakukan pada akhir satu lingkup materi, akhir semester, atau akhir jenjang. Penting untuk diingat, asesmen sumatif tidak harus selalu berupa tes tertulis. Pendidik dapat menggunakan teknik lain yang lebih autentik seperti penilaian performa (praktik, produk, projek) yang lebih mampu mengukur kompetensi murid secara utuh.

Kategori

Asesmen Formatif

Asesmen Sumatif

Tujuan

Memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta memberikan umpan balik.

Menilai pencapaian hasil belajar sebagai dasar penentuan nilai akhir, kenaikan kelas, atau kelulusan.

Fungsi Utama

Assessment for learning & Assessment as learning

Assessment of learning

Waktu Pelaksanaan

Di awal dan selama proses pembelajaran berlangsung.

Di akhir satu lingkup materi, akhir semester, atau akhir jenjang pendidikan.

Manfaat bagi Pendidik & Murid

Pendidik: Merefleksikan dan meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Murid: Mendapat umpan balik untuk memonitor kemajuan dan memperbaiki proses belajarnya.

Pendidik & Murid: Memastikan ketercapaian keseluruhan tujuan pembelajaran dan menjadi dasar untuk kelanjutan proses belajar di tingkat berikutnya.

Setelah memahami apa itu asesmen formatif dan sumatif serta mengapa keduanya penting, langkah selanjutnya adalah menerjemahkan pemahaman ini ke dalam rancangan asesmen yang konkret dan efektif di kelas.

4. Dari Konsep ke Praktik: Merancang Asesmen yang Efektif

Merencanakan asesmen yang matang adalah langkah krusial untuk memastikan penilaian yang kita lakukan benar-benar mengukur kompetensi yang dituju. Kunci utamanya adalah menentukan kriteria keberhasilan terlebih dahulu, sebelum kita menyusun instrumen atau soal. Dengan kata lain, kita harus tahu seperti apa "sukses" itu sebelum kita mencoba mengukurnya.

4.1 Menentukan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) adalah deskripsi operasional mengenai bukti-bukti kompetensi yang perlu ditunjukkan oleh murid untuk dianggap telah mencapai suatu tujuan pembelajaran. KKTP membantu pendidik dan murid memiliki pemahaman yang sama tentang target yang harus dicapai. Ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan KKTP:

  1. Menggunakan Deskripsi Kriteria: Pendidik menetapkan serangkaian deskripsi kualitatif. Murid dianggap mencapai tujuan jika sejumlah kriteria tertentu terpenuhi (misalnya, 3 dari 4 kriteria tercapai).
  2. Menggunakan Rubrik: Pendidik mengembangkan rubrik dengan tingkatan performa (misalnya, baru berkembang, layak, cakap, mahir) yang disertai deskripsi jelas untuk setiap levelnya. Murid dianggap tuntas jika mencapai level tertentu (misalnya, minimal cakap).
  3. Menggunakan Skala atau Interval Nilai: Pendidik menggunakan skala (misalnya 1-5) untuk setiap kriteria. Skor ini kemudian diolah menjadi nilai akhir yang dibandingkan dengan interval ketercapaian yang telah ditetapkan (misalnya, nilai 61-80 berarti sudah mencapai tujuan).
  4. Menggunakan Persentase: Pendidik menghitung jumlah kriteria atau indikator yang berhasil dikuasai murid dari total kriteria yang ada, lalu mengubahnya menjadi persentase ketercapaian.

4.2 Ragam Teknik dan Instrumen Asesmen

Pendidik memiliki keleluasaan untuk menggunakan beragam teknik dan instrumen asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik murid. Penggunaan teknik yang bervariasi akan memberikan gambaran yang lebih kaya dan utuh mengenai kompetensi murid.

  • Observasi: Asesmen yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan perilaku yang diamati secara berkala.
  • Kinerja: Asesmen yang menuntut murid untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan (dapat berupa praktik, produk, projek, atau portofolio).
  • Projek: Asesmen yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu.
  • Tes Tertulis: Tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan murid (dapat berbentuk esai, pilihan ganda, uraian, atau bentuk lainnya).
  • Tes Lisan: Pemberian soal atau pertanyaan agar murid dapat menjawab secara lisan, yang diberikan ketika pembelajaran berlangsung.
  • Penugasan: Pemberian tugas kepada murid untuk mengukur pengetahuan dan memfasilitasi murid memperoleh atau meningkatkan pengetahuan.
  • Portofolio: Kumpulan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya murid dalam bidang tertentu yang mencerminkan perkembangan (reflektif-integratif) dalam kurun waktu tertentu.

Setelah asesmen dirancang dan dilaksanakan, langkah terakhir namun tak kalah penting adalah mengolah data yang terkumpul dan melaporkannya secara bermakna.

5. Mengolah dan Melaporkan Hasil Asesmen: Memberi Makna pada Data

Pengolahan hasil asesmen bukan sekadar proses menghitung angka, melainkan menerjemahkan data menjadi informasi yang bermakna bagi murid, orang tua, dan pendidik itu sendiri. Tujuannya adalah memberikan gambaran yang jelas mengenai kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan.

Prinsip fundamental yang harus dipegang adalah pendidik tidak boleh menggabungkan hasil asesmen formatif dan sumatif dalam perhitungan nilai akhir. Keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda; formatif untuk perbaikan proses, sedangkan sumatif untuk penilaian hasil. Mencampurkannya akan menghilangkan makna dari masing-masing asesmen.

Nilai akhir mata pelajaran diolah dari beberapa asesmen sumatif yang dilakukan dalam satu semester. Pendidik dapat memilih salah satu dari tiga opsi pengolahan data kuantitatif berikut:

  • Pembobotan: Memberikan bobot yang berbeda pada setiap asesmen sumatif berdasarkan tingkat kesulitan atau pentingnya materi.
  • Persentase: Menghitung persentase tujuan pembelajaran yang berhasil dicapai oleh murid dari total tujuan pembelajaran yang diasesmen.
  • Rata-rata: Menghitung nilai rata-rata dari seluruh hasil asesmen sumatif yang telah dilakukan.

Tujuan pelaporan hasil belajar melalui rapor adalah untuk menyajikan informasi capaian kompetensi yang bersifat sederhana, informatif, dan mampu memotivasi murid. Deskripsi capaian kompetensi harus selalu ditulis dengan kalimat positif, menyoroti apa yang sudah dikuasai murid terlebih dahulu sebelum menyebutkan area yang perlu ditingkatkan.

Dengan mengolah dan melaporkan hasil secara cermat, siklus asesmen menjadi lengkap dan siap untuk dilanjutkan dengan refleksi yang lebih mendalam.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesimpulan: Menjadikan Asesmen sebagai Alat Refleksi dan Pertumbuhan

Asesmen dalam paradigma Kurikulum Merdeka bukanlah titik akhir, melainkan sebuah kompas dan cermin. Ia adalah alat untuk refleksi dan perbaikan berkelanjutan, bukan sekadar data administratif untuk mengisi rapor. Ketika asesmen tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan, kita membuka pintu bagi terbangunnya budaya saling belajar yang otentik di dalam kelas. Mari kita manfaatkan asesmen sebagai dialog yang konstruktif untuk memahami, mendukung, dan merayakan perjalanan belajar setiap murid secara utuh.

Sumber Rujukan: Anggraena, Yogi and Ginanto, Dion Efrijum and Kesuma, Ameliasari Tauresia and Setiyowati, Dwi (2025) Panduan pembelajaran dan asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, jenjang Pendidikan Dasar, jenjang Pendidikan Menengah edisi revisi tahun 2025. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Jakarta.

Posting Komentar

0 Komentar