Bayangkan seorang koki sedang menyiapkan semangkuk sup. Di tengah proses memasak, ia mengambil sendok, mencicipi kuahnya, dan berpikir, "Hmm, kurang sedikit garam." Ia lalu menambahkan garam dan bumbu lain hingga rasanya pas. Inilah penilaian formatif: sebuah proses pengecekan yang dilakukan selama proses untuk memperbaiki hasilnya. Sekarang, bayangkan sup yang sudah jadi disajikan kepada seorang pelanggan. Pelanggan itu mencicipinya dan memberikan penilaian akhir, "Sup ini lezat sekali!" Inilah penilaian sumatif: sebuah evaluasi yang dilakukan di akhir untuk mengukur hasil final.
Dua peran penilaian ini—sebagai cermin untuk perbaikan dan sebagai rangkuman pencapaian—adalah inti dari proses belajar yang efektif. Dokumen ini akan mengupas tuntas perbedaan esensial antara penilaian formatif dan sumatif, membantu para siswa dan calon guru memahami peran krusial keduanya dalam mengoptimalkan pembelajaran.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Penilaian Formatif: Cermin untuk Perbaikan Selama Belajar
Apa itu Penilaian Formatif?
Penilaian formatif adalah proses pengumpulan informasi mengenai kemajuan belajar siswa yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Ini adalah "penilaian UNTUK pembelajaran" (assessment for learning) yang berfokus untuk mengetahui perkembangan penguasaan kompetensi siswa, bukan untuk memberikan nilai akhir. Selain itu, penilaian formatif juga mencakup "penilaian SEBAGAI pembelajaran" (assessment as learning), di mana siswa dilibatkan secara aktif untuk merefleksikan kemajuan mereka sendiri—misalnya melalui penilaian diri atau antar teman—sehingga mereka dapat menentukan target belajar mereka selanjutnya.
Tujuan utamanya adalah sebagai berikut:- Memantau Kemajuan: Mengumpulkan bukti-bukti mengenai sejauh mana kemajuan siswa dalam menguasai sebuah kompetensi.
- Memperbaiki Proses Belajar: Hasilnya digunakan oleh guru untuk memperbaiki dan menyesuaikan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung agar lebih efektif bagi semua siswa.
- Memberi Umpan Balik: Memberikan umpan balik konstruktif secara langsung kepada siswa dan guru untuk perbaikan, bukan untuk menentukan nilai rapor.
Kapan Dilakukan?
Penilaian ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan menyatu dengan kegiatan sehari-hari di dalam kelas.
Contoh Nyata di Kelas
Berikut adalah beberapa teknik penilaian formatif yang umum digunakan:
- Exit Slips: Guru memberikan pertanyaan singkat di akhir pelajaran untuk mengecek pemahaman inti siswa pada hari itu. Jawaban siswa dikumpulkan saat mereka akan meninggalkan kelas.
- Observasi (Pengamatan): Guru mengamati siswa saat mereka bekerja secara individu maupun kelompok. Melalui pengamatan terhadap apa yang dikatakan, dilakukan, dan dihasilkan siswa, guru dapat mengetahui pemahaman dan keterampilan mereka secara langsung.
- Bertanya (Questioning): Pertanyaan lisan yang diajukan guru di tengah-tengah pelajaran dapat memberikan gambaran cepat mengenai kemajuan pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dibahas.
Jika penilaian formatif adalah tentang proses, maka penilaian sumatif berfokus pada hasil akhirnya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Penilaian Sumatif: Rangkuman Pencapaian di Akhir Belajar
Apa itu Penilaian Sumatif?
Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir suatu periode pembelajaran (misalnya satu bab atau satu semester) untuk mengukur pencapaian belajar siswa secara keseluruhan.
Tujuan utamanya adalah sebagai berikut:
- Mengukur Hasil Akhir: Mengetahui tingkat pencapaian belajar siswa setelah satu unit pembelajaran atau lebih telah selesai.
- Menjadi Bukti Penguasaan: Hasilnya menjadi bukti konkret mengenai apa yang telah dikuasai oleh siswa selama periode belajar tersebut.
- Dasar Pengambilan Keputusan: Hasilnya digunakan untuk keputusan formal, seperti menentukan nilai rapor, memutuskan kenaikan kelas, atau kelulusan siswa.
Kapan Dilakukan?
Penilaian ini dilakukan pada akhir sebuah unit, bab, semester, atau periode pembelajaran tertentu.
Contoh Nyata di Kelas
Contoh paling umum dari penilaian sumatif meliputi:
- Ujian Tengah Semester (UTS)
- Ujian Akhir Semester (UAS)
- Proyek akhir bab
Kini, setelah memahami keduanya secara terpisah, mari kita lihat perbedaannya secara berdampingan agar lebih jelas.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
3. Perbandingan Langsung: Formatif vs. Sumatif
Untuk memperjelas perbedaan keduanya, mari kita bandingkan secara langsung berdasarkan aspek-aspek kunci berikut:
Aspek | Penilaian Formatif | Penilaian Sumatif |
Waktu | Saat proses pembelajaran berlangsung | Pada akhir pembelajaran |
Tujuan | Mengetahui perkembangan penguasaan siswa | Mengetahui pencapaian belajar siswa |
Kegunaan Hasil | Dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran yang sedang berjalan | Bukti apa yang telah dikuasai siswa |
Dampak pada Nilai | Tidak dipakai untuk menentukan nilai rapor | Digunakan untuk menentukan nilai rapor, kenaikan kelas, dan kelulusan |
Secara fundamental, perbedaan utamanya adalah: Penilaian formatif bersifat diagnostik dan membimbing, berfungsi untuk memandu proses belajar yang sedang berjalan. Sebaliknya, penilaian sumatif bersifat evaluatif dan mengukur, berfungsi untuk memberikan rangkuman atas apa yang telah dipelajari.
Meskipun berbeda, penilaian formatif dan sumatif bukanlah musuh; keduanya adalah mitra dalam menciptakan pembelajaran yang utuh.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
4. Kesimpulan: Menjadi Penilai yang Bijak
Baik penilaian formatif maupun sumatif memiliki peran yang tak tergantikan dalam pendidikan. Penilaian formatif memastikan perjalanan belajar tetap berada di jalur yang benar, sementara penilaian sumatif memvalidasi pencapaian di akhir perjalanan tersebut.
Kembali ke analogi kita, seorang koki yang hebat tidak hanya menyajikan hidangan lezat di akhir (sumatif), tetapi juga terus-menerus mencicipi dan menyempurnakan resepnya di sepanjang proses (formatif). Dengan memahami perbedaan ini, siswa dan calon guru dapat menggunakan penilaian bukan hanya sebagai alat untuk menghakimi, tetapi sebagai alat yang kuat untuk mendukung, memperbaiki, dan mengoptimalkan perjalanan belajar menuju penguasaan yang optimal.
Daftar Rujukan
Tim Pusat Penilaian Pendidikan. (2019). Model Penilaian Formatif pada Pembelajaran Abad ke-21 untuk Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan

0 Komentar
Terima Kasih.