Pendahuluan: Mengubah Stigma Penilaian
Bagi sebagian besar dari kita, kata "ujian", "ulangan", atau "nilai" sering kali membangkitkan perasaan cemas. Kita teringat pada suasana kelas yang hening, lembar soal yang menentukan, dan angka merah di rapor. Namun, bagaimana jika penilaian di sekolah tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan menjadi sahabat terbaik dalam proses belajar? Inilah gagasan di balik "penilaian formatif", sebuah pendekatan modern yang sering disalahpahami. Berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran abad ke-21, penilaian formatif bukanlah tentang menghakimi, melainkan tentang membimbing. Artikel ini akan mengungkap empat wawasan fundamental yang menunjukkan pergeseran paradigma tersebut—dari penghakiman menjadi bimbingan.
1. Penilaian Untuk Belajar, Bukan Sekadar Tentang Belajar
Perbedaan mendasar dalam pendekatan penilaian modern terletak pada tujuannya. Ada dua jenis utama: penilaian formatif dan penilaian sumatif. Keduanya memiliki peran yang sangat berbeda.
Penilaian formatif terjadi selama proses pembelajaran. Tujuannya adalah untuk mengetahui perkembangan penguasaan siswa terhadap kompetensi yang sedang dipelajari. Informasi ini digunakan guru untuk memperbaiki proses belajar-mengajar saat itu juga, memastikan setiap siswa dapat mencapai penguasaan yang optimal. Sebaliknya, penilaian sumatif dilakukan di akhir sebuah unit pembelajaran (misalnya, ujian akhir semester). Tujuannya adalah untuk mengukur pencapaian akhir siswa.
Elemen yang paling mengejutkan adalah: menurut model penilaian modern, hasil penilaian formatif tidak dipakai dalam menentukan nilai rapor. Fungsinya murni sebagai alat diagnostik untuk perbaikan, bukan sebagai vonis akhir. Ini mengubah total paradigma penilaian, dari alat penghakiman menjadi alat bantu yang suportif dalam perjalanan belajar siswa.
2. Umpan Balik Jauh Lebih Penting Daripada Sekadar Angka
Apa yang lebih bermanfaat bagi seorang siswa: mendapatkan nilai 70 atau menerima catatan yang menjelaskan di mana letak kesalahannya dan bagaimana cara memperbaikinya? Jawabannya jelas. Penilaian formatif menekankan pentingnya umpan balik (feedback) yang efektif.
Umpan balik yang baik bukanlah sekadar nilai, melainkan komentar deskriptif yang relevan dengan tugas dan pencapaian siswa. Ia menjelaskan apa yang sudah dilakukan dengan baik dan menyarankan strategi konkret untuk perbaikan.
Sebagai contoh, dalam sebuah lembar kerja matematika tentang pecahan, seorang guru memberikan umpan balik tertulis langsung di kertas siswa. Guru tersebut menulis:
- Pujian untuk apa yang sudah benar: "Aurel, Kamu telah melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dengan menyamakan penyebut dan menyesuaikan pembilang dengan sangat baik. Hasil-hasil penjumlahan dan pengurangan soal no 1-4 semua benar..."
- Identifikasi kesalahan spesifik: "...hanya kamu lupa jawaban nomor 3 belum kamu sederhanakan. Untuk nomor 5, Kamu telah menyamakan pembilang dan penyebut dengan benar, tetapi pada akhir penyelesaian soal kamu sepertinya tidak sengaja mengubah tanda - menjadi tanda + yang mengakibatkan jawaban akhir salah."
- Langkah perbaikan yang jelas: "Coba kamu sederhanakan Jawaban soal no 3 dan kamu ulangi mengerjakan soal no 5."
Umpan balik seperti ini jauh lebih kuat daripada sekadar angka. Ia memberdayakan siswa untuk memahami kesalahan mereka, belajar dari prosesnya, dan menumbuhkan pola pikir berkembang (growth mindset) alih-alih takut akan kegagalan.
3. Siswa Menjadi Penilai, Bukan Hanya yang Dinilai
Dalam paradigma pembelajaran abad ke-21, siswa tidak lagi hanya menjadi objek yang dinilai. Mereka didorong untuk menjadi subjek aktif dalam proses penilaian melalui Penilaian Diri (Self-Assessment) dan Penilaian Antarteman (Peer-Assessment).
Dalam penilaian diri, siswa mengevaluasi kemajuan belajar mereka sendiri. Dalam penilaian antarteman, mereka memberikan masukan kepada teman sekelasnya. Mengapa ini penting? Seperti yang dinyatakan oleh Black dan William (1998), "ketika peserta didik diharuskan untuk berpikir mengenai proses belajar mereka sendiri, mengartikulasikan apa yang mereka pahami, dan apa saja yang masih perlu mereka pelajari, prestasi akan meningkat."
Praktik ini memberdayakan siswa secara luar biasa. Mereka belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri, mengembangkan keterampilan metakognitif (berpikir tentang cara berpikir mereka), dan merefleksikan kemajuan mereka secara jujur.
4. "Tes" Bisa Jadi Aktivitas Fisik yang Seru dan Kreatif
Lupakan sejenak bayangan tes yang kaku, sunyi, dan berbasis kertas. Penilaian formatif membuka pintu bagi berbagai teknik kreatif yang terintegrasi langsung ke dalam aktivitas kelas yang menyenangkan.
Salah satu contohnya adalah Penilaian Kinestetik. Dalam sebuah pelajaran tentang waktu, guru menggelar spanduk besar bergambar jam di lantai. Siswa kemudian diminta maju dan menggunakan tubuh mereka—kaki sebagai jarum jam—untuk menunjukkan waktu yang disebutkan guru. Melalui aktivitas fisik ini, guru dapat langsung mengamati pemahaman siswa tentang konsep jam, menit, jarum pendek, dan jarum panjang.
Selain itu, ada banyak teknik sederhana lainnya. Guru bisa meminta siswa membuat Peta Konsep untuk memvisualisasikan pemahaman mereka tentang suatu topik, atau menggunakan teknik Tunjuk Lima Jari di mana siswa mengangkat satu hingga lima jari untuk menunjukkan tingkat pemahaman mereka secara cepat. Ini membuktikan bahwa penilaian bisa menjadi bagian yang dinamis, fleksibel, dan bahkan menyenangkan dari kegiatan belajar sehari-hari.
Kesimpulan: Menuju Dialog Pembelajaran yang Membangun
Pergeseran menuju penilaian formatif adalah perubahan dari monolog penghakiman menjadi dialog yang membangun. Penilaian tidak lagi menjadi titik akhir yang menakutkan, melainkan sebuah percakapan berkelanjutan antara guru dan siswa. Tujuannya satu: mengoptimalkan proses belajar agar setiap anak dapat mencapai potensi terbaiknya. Ini adalah cerminan sejati dari pendidikan yang berpusat pada siswa.
Bayangkan jika setiap pengalaman penilaian di sekolah lebih terasa seperti dialog yang suportif, bukan sekadar angka di atas kertas—perubahan apa yang mungkin terjadi pada motivasi dan kecintaan anak-anak kita terhadap belajar?
Daftar Rujukan
Tim Pusat Penilaian Pendidikan. (2019). Model Penilaian Formatif pada Pembelajaran Abad ke-21 untuk Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan

0 Komentar
Terima Kasih.