Ganti menteri, ganti kurikulum. Keresahan ini seolah menjadi lagu lama yang terus terulang dalam dunia pendidikan Indonesia. Namun, di tengah riuh rendah kebijakan baru, sebuah inisiatif bernama "Pembelajaran Mendalam (PM)" hadir dengan proposal yang berbeda. Ini bukanlah sekadar perubahan daftar mata pelajaran atau buku teks.
Naskah Akademik resmi tentang Pembelajaran Mendalam mengungkap sebuah strategi yang saling terkait, di mana lima elemen kuncinya—dari filosofi hingga kebijakan praktis—membentuk sebuah rantai transformasi yang koheren. Mari kita bedah bagaimana kelima kepingan ini menyatu untuk membentuk visi baru pendidikan Indonesia, yang mungkin jauh lebih dalam dari yang kita duga.
1. Bukan Ganti Sampul: PM Bukanlah Kurikulum Baru, Melainkan Revolusi di Ruang Kelas
Fakta pertama ini adalah kunci untuk membuka seluruh gagasan di baliknya: Pembelajaran Mendalam (PM) bukanlah kurikulum baru yang datang untuk menggantikan Kurikulum Merdeka. Naskah Akademik dengan tegas menyatakan bahwa PM adalah sebuah pendekatan pembelajaran. Ia bukanlah konsep asing yang tiba-tiba muncul, melainkan evolusi dari gagasan pembelajaran berpusat pada siswa yang jejaknya bisa dilacak sejak era CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan PAKEM.
Pembedaan ini secara fundamental mengalihkan fokus dari tumpukan dokumen kebijakan ke dinamika di dalam ruang kelas. Fokusnya bukan lagi mengubah apa yang diajarkan, melainkan merevolusi cara guru mengajar dan siswa belajar. Inilah yang menjadi landasan bagi pergeseran filosofis berikutnya.
Untuk konteks Indonesia, PM bukan kurikulum melainkan suatu pendekatan pembelajaran.
2. Filosofi Inti: Tiga Kata yang Mengubah Segalanya—Sadar, Bermakna, dan Gembira
Setelah menetapkan PM sebagai sebuah pendekatan, pertanyaan berikutnya adalah: pendekatan seperti apa? Jawabannya terletak pada tiga prinsip yang menjadi jantung filosofisnya: pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
- Berkesadaran: Siswa didorong menjadi pembelajar aktif yang memahami tujuan dari apa yang mereka pelajari dan mampu meregulasi proses belajarnya sendiri.
- Bermakna: Pembelajaran diubah dari abstraksi teoretis menjadi pengalaman nyata. Ini dicapai dengan menghubungkan materi ajar pada isu-isu kontekstual dan secara aktif melibatkan "orang tua, masyarakat, atau komunitas sebagai sumber pengetahuan praktis."
- Menggembirakan: Ini bukan sekadar tentang "belajar sambil bermain". Prinsip ini berakar pada penciptaan keamanan psikologis yang mendalam, di mana kebutuhan fundamental siswa terpenuhi: mulai dari "kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan kasih sayang dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, serta kebutuhan aktualisasi diri."
Untuk mewujudkan filosofi yang begitu berpusat pada manusia ini, sistem tidak bisa lagi mengandalkan model komando dari atas ke bawah. Ia membutuhkan arsitek di garda terdepan.
3. Piramida Kekuasaan Dibalik: Guru Bukan Lagi Pelaksana, Melainkan Arsitek Inovasi
Jika filosofi "Sadar, Bermakna, Gembira" adalah tujuannya, maka pemberdayaan guru adalah mesin penggeraknya. Kerangka PM mengusulkan pembalikan model hierarkis top-down menjadi model bottom-up yang digambarkan seperti piramida terbalik.
Ini menandakan pergeseran paradigmatik dan sebuah pelajaran penting yang dipetik dari sejarah. Inisiatif masa lalu seperti CBSA dan PAKEM, meskipun progresif, seringkali gagal terimplementasi secara luas karena pendekatannya yang top-down. Kerangka PM secara sadar membalik logika ini dengan menempatkan guru bukan lagi sebagai pelaksana pasif, melainkan sebagai "sumber inovasi dan sumber informasi untuk kebijakan". Pemberdayaan ini bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai hasil yang juga didefinisikan ulang secara fundamental.
4. Mendefinisikan Ulang Kesuksesan: Lulusan Utuh Melampaui Nilai Akademik
Guru yang berdaya tentu harus memiliki tujuan yang jelas. Pembelajaran Mendalam menjawabnya dengan memperluas definisi "lulusan sukses" itu sendiri, berevolusi dari "Profil Pelajar Pancasila" dengan enam dimensi menjadi "Profil Lulusan" dengan delapan dimensi:
- Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Kewargaan
- Penalaran kritis
- Kreativitas
- Kolaborasi
- Kemandirian
- Kesehatan
- Komunikasi
Penambahan ini bukan sekadar kosmetik; ini adalah penolakan formal terhadap definisi kesuksesan yang semata-mata bersifat akademik. Dimensi Kesehatan, yang secara eksplisit mencakup kesejahteraan lahir-batin atau well-being, adalah respons kebijakan yang sadar terhadap krisis kesehatan mental generasi muda yang menjadi isu global. Sementara itu, penambahan Komunikasi adalah pengakuan bahwa di dunia yang semakin kolaboratif, gagasan paling cemerlang pun akan sia-sia jika tidak dapat dibagikan secara efektif.
Namun, visi besar ini akan runtuh jika dihadapkan pada satu realitas pahit di lapangan: beban kerja guru. Di sinilah letak rekomendasi paling pragmatis dari naskah ini.
5. Kunci Tersembunyi Inovasi: Beban 24 Jam Guru Didefinisikan Ulang untuk Membuka Kreativitas
Kita tidak bisa melihat poin ini secara terpisah. Ini adalah kunci tersembunyi yang memungkinkan seluruh kerangka PM—mulai dari filosofi hingga profil lulusan—menjadi mungkin untuk diimplementasikan. Naskah Akademik merekomendasikan pendefinisian ulang kewajiban mengajar 24 jam bagi guru.
...kewajiban mengajar 24 jam bagi guru tidak hanya mencakup kegiatan tatap muka dalam kelas akan tetapi juga kegiatan-kegiatan lain di luar kelas yang mendukung penerapan PM.
Yang membuat poin ini begitu mengejutkan adalah pengakuannya yang jujur terhadap realitas di lapangan. Untuk pertama kalinya, kebijakan secara formal mengakui bahwa pekerjaan guru yang paling bernilai—merancang proyek kolaboratif, membina siswa secara personal, dan mengembangkan inovasi pedagogis—seringkali terjadi di luar jam tatap muka di kelas. Dengan mendefinisikan ulang beban kerja, kebijakan ini secara strategis membuka ruang dan waktu bagi guru untuk benar-benar menjadi arsitek inovasi.
Kesimpulan: Sebuah Langkah Menuju Pendidikan yang Lebih Manusiawi
Kelima fakta ini, jika dilihat bersama-sama, bukanlah inisiatif yang terpisah. Mereka membentuk sebuah rantai logika transformasi yang utuh. Dimulai dari pergeseran fundamental ke sebuah pendekatan (1), yang melahirkan filosofi pembelajaran yang berpusat pada pengalaman siswa (2). Untuk mewujudkannya, sistem harus membalik piramida dan menjadikan guru sebagai inovator (3), yang bekerja untuk mencapai definisi kesuksesan lulusan yang lebih holistik (4). Dan sebagai fondasi praktis dari semua ini, sistem harus membebaskan potensi guru dengan mendefinisikan ulang beban kerja mereka (5).
Ini adalah upaya membangun sistem yang tidak hanya mencetak siswa cerdas, tetapi juga manusia yang sehat, berkarakter, dan siap berkontribusi. Dengan fondasi yang lebih memanusiakan manusia ini, mampukah sistem pendidikan kita benar-benar melahirkan Generasi Emas 2045 yang kita dambakan?
Sumber Rujukan: Kemendikdasmen RI. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu Untuk Semua. Jakarta: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan.

0 Komentar
Terima Kasih.